“Sekarang di SMA dan SMK sudah ada pelajaran menenun. Anak-anak belajar menenun di sekolah dan hasil tenun mereka dijual. Hasilnya bisa menjadi tambahan biaya pendidikan bagi para siswa,” jelasnya.
Ia menilai kebijakan ini juga membuka peluang lahirnya pelaku ekonomi kreatif baru berbasis budaya lokal.
Festival Fulan Fehan jadi Ruang Diplomasi Budaya
Selain memperkuat ekonomi kreatif, Melki menilai Festival Fulan Fehan memiliki nilai strategis sebagai ruang diplomasi budaya antara Indonesia dan Timor Leste.
Menurutnya, masyarakat di kedua negara memiliki akar budaya yang sama karena berada di Pulau Timor.
“Festival ini bukan hanya menyatukan Belu, TTU, dan Malaka, tetapi juga menyatukan dua negara. Kita memang berbeda secara administrasi pemerintahan, tetapi memiliki banyak kesamaan budaya, lagu, tarian, dan tenun. Budaya menjadi perekat hubungan persaudaraan kedua negara,” ujarnya.
Ia berharap Festival Fulan Fehan terus berkembang menjadi agenda budaya bertaraf internasional yang memperkuat hubungan masyarakat di kawasan perbatasan.
Melki juga mendorong pemerintah daerah di wilayah perbatasan memperluas kerja sama budaya hingga Australia, khususnya dengan Kota Darwin, mengingat hubungan historis dan kedekatan geografis yang dimiliki NTT.
Festival Budaya Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi NTT
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur NTT memaparkan bahwa penyelenggaraan berbagai festival budaya telah memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatLembata.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
