Larantuka, RakyatLembata.ID – Polres Flores Timur berhasil mengamankan sebanyak 812 senjata dan barang berbahaya pasca konflik sosial yang terjadi di Pulau Adonara pada 6 Maret serta 9 dan 10 Mei 2026.
Ratusan senjata tersebut diserahkan masyarakat melalui pendekatan persuasif dan humanis yang dilakukan aparat kepolisian bersama pemerintah desa.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, mengungkapkan barang yang berhasil diamankan terdiri dari 122 pucuk senjata api rakitan (senpira), 258 butir dan selongsong amunisi, 431 senjata tajam, serta satu tempat busur.
Menurut Kapolres, keberhasilan pengumpulan senjata tersebut tidak lepas dari kerja sama masyarakat yang mulai menyadari pentingnya menjaga keamanan dan mencegah konflik susulan di wilayah Adonara.
“Kami mengedepankan upaya pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. Ketika masyarakat kooperatif, kami lebih mengutamakan kepentingan sosial dan terciptanya situasi yang aman serta kondusif,” ujar AKBP Adhitya Octorio Putra.
Pendekatan Humanis jadi Kunci
Alih-alih mengandalkan tindakan represif, Polres Flores Timur memilih membangun komunikasi melalui dialog dan sosialisasi langsung kepada masyarakat. Langkah tersebut dilakukan bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat untuk mengajak warga menyerahkan berbagai senjata yang digunakan saat konflik.
Pendekatan humanis tersebut membuahkan hasil positif. Warga secara sukarela menyerahkan senjata api rakitan, amunisi, hingga berbagai jenis senjata tajam yang berpotensi digunakan kembali dalam konflik.
Polres Flores Timur menilai kesadaran masyarakat untuk menyerahkan senjata menjadi modal penting dalam menciptakan perdamaian dan memulihkan kehidupan sosial pasca bentrokan.
Konflik Dipicu Sengketa Lahan
Konflik yang terjadi di Kecamatan Adonara Timur melibatkan warga Desa Weburak dan Desa Nara Sosina. Perselisihan dipicu sengketa lahan yang kemudian berkembang menjadi konflik terbuka.
Akibat peristiwa tersebut, sekitar 50 rumah warga dilaporkan terbakar dan menyebabkan kerugian material yang cukup besar.
Meski demikian, kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Adonara Timur kini berangsur pulih. Aktivitas warga telah kembali berjalan normal setelah berbagai upaya mediasi dan pengamanan dilakukan oleh aparat bersama pemerintah daerah.
Untuk memastikan situasi tetap kondusif, personel Polres Flores Timur dan Brimob masih disiagakan di sejumlah titik guna mencegah munculnya konflik lanjutan.
Polda NTT Apresiasi Sikap Kooperatif Warga
Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko melalui Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Henry Novika Chandra menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah menunjukkan sikap kooperatif dengan menyerahkan senjata yang berpotensi mengganggu keamanan.
Menurutnya, langkah masyarakat tersebut menjadi bukti bahwa penyelesaian konflik tidak selalu harus dilakukan melalui kekerasan, tetapi dapat ditempuh melalui dialog, kesadaran bersama, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat.
“Ini menjadi bukti bahwa penyelesaian konflik melalui pendekatan humanis, dialog, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat merupakan kunci dalam menjaga persatuan serta mewujudkan NTT yang aman, damai, dan penuh kasih,” ujar Kombes Pol. Henry Novika Chandra.
Polda NTT berharap keberhasilan di Adonara dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam menyelesaikan konflik sosial secara damai. Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan aparat keamanan, upaya menjaga stabilitas keamanan di Nusa Tenggara Timur diharapkan dapat terus terwujud demi terciptanya kehidupan yang harmonis dan sejahtera. (*/rl1)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatLembata.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
