Menurut Bupati, tema tersebut mengandung filosofi bahwa pembangunan daerah membutuhkan persatuan seluruh elemen masyarakat, sebagaimana sehelai kain tenun yang tersusun dari banyak benang.
“Sebagaimana sebuah kain tenun yang indah tidak mungkin terbentuk hanya dari satu benang, demikian pula kemajuan daerah tidak akan terwujud tanpa persatuan dan dukungan seluruh komponen masyarakat. Benang yang terpisah akan mudah putus, tetapi ketika ditenun menjadi satu, ia menjadi kuat dan bernilai,” katanya.
Ia menegaskan Festival Lamaholot bukan sekadar hiburan, melainkan ruang memperkuat identitas budaya, membangun persatuan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Generasi Muda Diminta Lestarikan Budaya
Bupati juga mengajak generasi muda untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Lamaholot di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, melestarikan budaya bukan berarti hidup di masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai luhur leluhur sebagai bekal membangun masa depan.
“Meneruskan budaya bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan membawa nilai-nilai luhur itu untuk menerangi masa depan. Jadilah generasi yang pandai menenun mimpi, namun tetap teguh berpijak pada tanah leluhur,” pesannya.
Ditandai Tiupan Buri dan Penyerahan Piagam KEN
Prosesi pembukaan Festival Lamaholot 2026 berlangsung khidmat dengan tiupan buri oleh Bupati Lembata bersama unsur Forkopimda, perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Flores Timur.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatLembata.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










