Lewoleba, RakyatLembata.ID – Pemerintah Kabupaten Lembata bergerak cepat menangani dampak bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah akibat cuaca ekstrem pada Selasa (28/4/2026) sekitar pukul 17.00 WITA.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang menyebabkan banjir di beberapa kecamatan, yakni Nubatukan, Nagawutung, dan Buyasuri.
Menyikapi kondisi tersebut, Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati H. Muhamad Nasir langsung turun ke lapangan sekaligus memimpin rapat evaluasi penanganan pascabanjir.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lembata, sebanyak 107 rumah warga terendam banjir. Selain itu, dua fasilitas umum mengalami kerusakan, yakni pagar Kantor Bupati dan pagar SDK Boto.
Tragisnya, satu warga bernama Markus Maring (75), asal Desa Atulaleng, Kecamatan Buyasuri, dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Wilayah paling terdampak berada di Kelurahan Lewoleba Timur dengan 90 rumah terendam dan 330 jiwa terdampak. Sejumlah kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas turut terdampak. Genangan juga dilaporkan terjadi di Kelurahan Selandoro, Lewoleba Selatan, dan Lewoleba Barat.
Banjir mulai surut pada Selasa malam sekitar pukul 22.00 WITA. Warga bersama aparat setempat bergotong royong membersihkan lumpur, sementara sebagian lainnya mengungsi ke rumah kerabat.
Dalam arahannya, Bupati Lembata menegaskan bahwa penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Salah satu prioritas utama adalah pengerukan sedimentasi di Kali Komak untuk meningkatkan kapasitas aliran air.
Selain itu, pemerintah juga akan membersihkan pohon tumbang dan mengatasi sumbatan di jalur air. Bupati menginstruksikan dinas terkait untuk segera memetakan solusi teknis, termasuk memastikan saluran drainase tersambung hingga ke laut.
“Pembangunan drainase tidak akan efektif tanpa penataan lingkungan yang disiplin dan terintegrasi,” tegas Bupati.
Ia juga menyoroti faktor penyebab banjir, seperti kepadatan permukiman dan perambahan kawasan hutan yang memicu banjir kiriman. Edukasi kepada masyarakat serta pemetaan kawasan rawan pun menjadi langkah penting ke depan.
Sementara itu, Wakil Bupati Lembata menekankan perlunya gerakan darurat normalisasi drainase di wilayah kota. Ia meminta pembersihan total saluran yang tersumbat serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase yang dinilai belum optimal.
“Hasil identifikasi menunjukkan banyak drainase tidak tersambung hingga ke pantai, sehingga air meluap saat hujan deras,” jelasnya.
Di sisi lain, Dinas Sosial diminta segera menyalurkan bantuan kepada warga terdampak secara tepat sasaran untuk memenuhi kebutuhan dasar pascabencana.
BPBD Lembata juga merekomendasikan sejumlah langkah, seperti pembersihan drainase, pemetaan ulang jalur banjir, peningkatan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan sungai, serta pembaruan data warga terdampak.
Pemerintah Kabupaten Lembata menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam penanganan bencana dan memperkuat upaya mitigasi guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang. (*/rl1)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatLembata.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










