“Semua agama pada dasarnya membawa misi yang sama, yaitu membangun hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan dan sesama manusia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa nilai kedamaian dan toleransi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati perbedaan keyakinan, budaya, maupun bahasa.
Rumah Ibadah Harus Menjadi Ruang Persaudaraan
Pesan serupa disampaikan Pastor Paroki Paroki St. Fransiskus Balauring, Maksimus Labut Rao. Ia menekankan bahwa toleransi tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Menurutnya, rumah-rumah ibadah harus menjadi ruang yang menghadirkan kasih persaudaraan, kedamaian, dan sukacita bagi seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan agama.
Pastor Maksimus juga mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali warisan leluhur Kedang yang selama ini dikenal kuat dengan semangat gotong royong dan kebersamaan.
“Saya senang mendengar cerita bahwa dahulu kita membangun masjid bersama, membangun gereja bersama. Semangat itu jangan sampai hilang. Tugas kita hari ini adalah menghidupkannya kembali,” ungkapnya.
Ajakan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang hadir dan semakin memperkuat pesan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk hidup rukun dan saling mendukung.
Bupati Lembata: Persatuan Modal Utama Pembangunan
Dalam sambutannya, Bupati Petrus Kanisius Tuaq mengapresiasi semangat persaudaraan yang terus terjaga di Desa Lebewala dan wilayah Kedang secara umum.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatLembata.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










