Selain itu, PDAM juga menyiapkan strategi investasi bertahap senilai Rp3,6 miliar. Investasi tersebut diprioritaskan untuk program penurunan NRW sebesar Rp200 juta, pengadaan meter pelanggan Rp100 juta, dan pemeliharaan instalasi pengolahan air sekitar Rp115 juta.
Dalam presentasi tersebut, saldo akhir kas PDAM pada Desember 2026 diproyeksikan mencapai Rp1,37 miliar. Kondisi itu dinilai menunjukkan likuiditas perusahaan yang aman serta kemampuan membiayai investasi secara bertahap tanpa tekanan keuangan berat.
Komite Audit PDAM, Mateus Mas Belalawe menegaskan bahwa PDAM memiliki peran strategis sebagai tulang punggung pelayanan air minum di Kabupaten Lembata.
Menurutnya, hingga kini Kabupaten Lembata belum memiliki Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) maupun UPTD Air sehingga PDAM masih menjalankan fungsi ganda dalam pelayanan publik sektor air minum.
Ia juga menyoroti pentingnya tata kelola perusahaan yang baik, pembaruan dokumen RKAP, serta evaluasi kinerja secara menyeluruh berdasarkan aspek operasional, keuangan, sumber daya manusia, dan pelayanan.
Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Yohanes Berchamans Daniel Dai menyampaikan sejumlah poin strategis hasil diskusi sebagai bahan masukan bagi pimpinan daerah dalam menentukan arah kebijakan PDAM ke depan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatLembata.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










